Prodi Jurnalistik Gelar Kuliah Umum Internasional Tentang Investigative Journalisme
Prodi Jurnalistik Gelar Kuliah Umum Internasional Tentang Investigative Journalisme
[caption id="attachment_1641" align="aligncenter" width="1280"]international public lecture tentang investigative reporting international public lecture tentang investigative reporting[/caption] Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menyelenggarakan international public lecture tentang investigative journalism di Ruang Teater Prof. Dr. Aqib Suminto, Senin (2/12). Acara berskup internasional ini menghadirkan Lucinda Fleeson, dosen di University of Maryland College of Journalism, AS. Acara terselenggara berkat kerjasama Program Studi Jurnalistik Fidikom UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, American Corner UIN Jakarta dan Embassy of the United State-Jakarta. Dimulai dari pukul 10.00-12.00 WIB dan dibuka secara resmi oleh Dekan Dakwah Suparto, Ph.D. Kaprodi Jurnalistik, Kholis dalam sambutannya menerangkan bahwa kegiatan Kuliah Umum Internastional akan membuka wawasan mahasiswa terutama dalam dunia jurnalistik. Senada dengan Kholis, Dekan Fidikom, Suparto mengapresiasi international public lecture yang diselenggarakan oleh Prodi Jurnalistik yang bekerja sama dengan American Corner. [caption id="attachment_1660" align="aligncenter" width="473"]Lucinda memaparkan kuliah umum Investigative Journalism Lucinda memaparkan kuliah umum Investigative Journalism[/caption] Dalam presentasinya, Lucinda menjelaskan sejumlah pengalamannya di banyak negara berkembang semacam Nepal dan India dalam mengembangkan investigative reporting.  Di Nepal, agar tradisi investigative reporting berkembang, ia sengaja membentuk Center for Investigative Reporting of Nepal, sebuah Non Governmental Organisation (NGO) yang merekrut sekitar 150 jurnalis lokal untuk mendalami sekaligus mengaplikasi ilmu yang pernah ia dapat dari tempat kuliahnya dulu di AS. Banyak topik dibahas secara runut oleh jurnalis senior yang telah melatih para wartawan di Afrika, Eropa Timur dan Tengah, Amerika Latin dan Asia Selatan ini. Yakni mulai dari pengalamannya bersama para wartawan Colombo menginvestigasi bantuan untuk korban bencana alam, atau menginvestigasi janji politik pemerintah setempat yang ingin membangun perumahan rakyat tapi nyatanya tidak membangun satu rumah pun, sampai membongkar praktek korupsi dan kolusi yang dilakukan oleh beberapa pemerintah negara-negara berkembang yang pernah ia kunjungi. [caption id="attachment_1642" align="aligncenter" width="1280"]international public lecture tentang investigative reporting international public lecture tentang investigative reporting[/caption] Hal menarik lainnya adalah anjuran Lucinda untuk mengeksplorasi data yang dimiliki dalam bentuk grafik. ‘’Terkadang grafik yang kita buat akan lebih berbicara ketimbang tulisan panjang yang kita tulis,’’ jelasnya. Tanpa mengatakan pemerintah tidak membangun perumahan sesuai janji politiknya, dengan menyaksikan grafik yang dibuat seorang jurnalis, masyarakat pembaca akan bisa menilai bahwa pemerintah memang tak membuat rumah jika perbandingan jumlah rumah yang dibangun di masa lalu lebih banyak dibanding rumah yang dibangun saat ini. Teknik kedua yang ia tekankan adalah menulis laporan dalam bentuk story telling. Cerita yang mendalam dan menarik adalah ciri khas wartawan menulis laporan investigative reporting. Teknik ketiga, dia mewanti-wanti bahwa membuat laporan dari data yang diperoleh wartawan saja tidak cukup. Untuk membentuk opini di tengah masyarakat, kata dia, wartawan harus berkolaborasi dengan akademisi, intelektual, aktivis NGO, dan lain-lain dengan mengutip pendapat mereka. Hanya dengan begitu, laporan investigasi yang dibuat wartawan akan memiliki daya ledak berita di tengah masyarakat. Lucinda Fleeson adalah jurnalis pemenang penghargaan dengan pengalaman pelatihan internasional yang luas dalam pelaporan investigasi, cerita naratif, dan pelaporan tentang masalah sosial. Tulisannya tentang pelaporan investigasi dalam mengembangkan demokrasi telah diterjemahkan ke dalam 18 bahasa dan diedarkan ke lebih dari 30.000 jurnalis di seluruh dunia. Lucinda bekerja untuk beberapa surat kabar lokal sebelum akhirnya menjadi wartawan tetap di The Philadelphia Inquirer. Ia menulis ratusan artikel berita, features, dan kisah investigasi yang melacak banyak topik, mulai dari kasus korupsi di departemen kepolisian Atlantic City, hingga soal seni dan budaya. Karena minat amatirnya dalam berkebun, ia berteman dengan seorang ahli botani Philadelphia, William Klein, Direktur National Tropical Botanical Garden di Hawaii. Pertemanan inilah yang membawanya menetap  dua tahun di Kauai, Hawaii. Ketika dia menjelajahi krisis tanaman Hawaii dan memburu sejarah taman, Lucinda menyadari bahwa ternyata dia bukan ahli botani sebab nalurinya selalu saja menjurus ke arah reportase. Pengalamannya di  Hawaii mengembalikannya ke habitat jurnalisme, tapi dalam lingkup baru. Ia menghabiskan beberapa tahun melatih jurnalis di luar negeri, di Eropa Timur dan Tengah, Afrika dan Amerika Latin. Setelah menetap di Washington, D.C., dia menulis artikel untuk Washington Post, Mother Jones, American Journalism Review, dan lainnya. Sekarang dia mengarahkan program untuk jurnalis internasional di University of Maryland College of Journalism. (hlm/mar)